Not-
Found
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

[Cerpen] Fantasya

Namaku Fantasya. Terdengar aneh? Aku juga tak tahu, mengapa kedua orang tuaku memilih nama ini untukku. Memang sih, ibuku adalah seorang penulis novel bergenre fantasi yang cukup terkenal. Ayah dan ibuku juga bertemu gara–gara ayah suka sekali dengan buku ibu dan bertemulah mereka untuk yang pertama kali di acara launching buku terbaru ibu. Mungkin untuk mengingat momen itulah, maka aku--anak pertama mereka--diberi nama Fantasya. Saudara dan teman dekatku biasa memanggilku Tasya. Aku bukan cewek populer. Tapi aku juga bukan tipe penyendiri. Aku mempunyai seorang sahabat dekat yang kukenal saat ospek di hari pertama kuliah. Maya namanya.
“Hei, Sya, mau kemana?“ tanya Maya yang mendadak muncul di sebelahku.
“Ke kantin, May. Mau ikut?“ Maya langsung mengangguk dan berjalan beriringan denganku. Langkahku terhenti di depan Hall. Disana tertata beberapa kursi dan sebuah panggung.
“Ada acara apa, May?“
“Itu, acara bulanan anak jurusan Musik. Mereka ngadain konser kecil-kecilan gitu.“
“Lihat sebentar, yuk.“
Kami pun duduk di bangku yang masih kosong. Semakin lama Hall menjadi semakin ramai. Bahkan ada beberapa orang yang berdiri di belakang deretan kursi yang mulai terisi penuh. Tak lama, muncullah seorang cewek yang duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu yang cukup familiar. Ternyata lagu Someone Like You-nya Adele yang sedikit diaransemen olehnya. Wah, hebat juga. Lagunya jadi makin asik. Ternyata bukan itu saja, si cewek juga menyanyikan lagu tersebut. Wow, bagus juga ternyata penampilan anak jurusan Musik ini. Aku dan Maya asik menikmati penampilan demi penampilan. Sudah empat penampilan kami tonton, aku merasa sudah cukup dan hendak beranjak dari kursiku. Tapi aku terduduk kembali. Entah kenapa permainan piano kali ini terasa berbeda. Dia memainkan Moonlight Sonata-nya Beethoven. Aku tak terlalu mengenal lagu klasik, tapi entah mengapa, aku bisa terbawa emosi dari lagu yang dia mainkan. Rasanya aku sampai merinding merasakan emosi yang tercipta dari permainan piano itu.
“Sya, ga jadi udahan?“
“Satu lagi deh, May. Gila, yang ini permainannya keren banget deh.“ Pandanganku hanya tertuju pada si cowok yang bermain piano. Terhipnotis. Sayang wajahnya menyamping jadi aku tak bisa melihatnya dengan jelas.
Setelah si cowok memainkan ending lagu itu, dia bangkit berdiri, menghadap ke penonton dan memberi hormat. Wow, wajahnya menarik dan senyumnya menawan.
“Sya, itu Alfiano...”
“Alfiano siapa?“ Mataku masih tertuju pada si cowok yang sekarang sedang menuruni panggung.
“Itu yang barusan main piano. Namanya Alfiano, teman SMA-ku dulu.“

***

Tiga bulan berlalu sejak saat pertama aku menonton konser itu dan tiga kali pula aku tak pernah absen. Aku selalu menantikan permainan Alfiano. Entah mengapa, permainan pianonya selalu bisa membuatku terhanyut. Hal yang tak kudapatkan dari peserta lainnya.
“Tasya, sini deh. Ada yang mau aku kenalin ke kamu.“ Maya memanggilku dan aku pun segera berjalan kesana.
“Tasya, ini Alfiano. Fian, ini Fantasya. Tasya suka banget lho sama permainan pianomu sejak pertama dia denger. Tuh dia juga selalu nonton konser bulanan.“
“Alfiano.“
“Fantasya.“ Oh my god, aku benar-benar bertemu dengan Alfiano dan kami berkenalan, bersalaman juga! Rasanya aku ingin berteriak kegirangan. Alfiano tersenyum manis kepadaku. Aku tak ingin berkedip. Seakan takut, jika aku berkedip, dia akan menghilang dari hadapanku.
"Thanks, Fantasya, sudah nonton konser bulanan terus. By the way, nama kamu unik ya.“
“Sama-sama. Aku suka banget sama permainan pianomu. Hahaha, iya nih. Namaku begini gara-gara ibu adalah penulis novel fantasi. Namamu juga bagus kok. Cocok sama kamu.“
“Cocok gimana maksudnya?“
“Fiano. Dan kamu suka main piano. Hehehe. Maaf ya kalau aku sok tahu.“
“Ga kok. Lagi pula, tebakan kamu benar. Memang ayahku ingin anak-anaknya bisa bermusik. Jadilah aku diberi nama yang berasal dari kata piano dan dimodif. Hehehe.“
“Ehm. Kalian lupa ada aku disini?“ Maya bersuara.
Sorry, May. Hehehe,“ jawabku.
“Eh, aku pergi dulu ya. Thanks, May, sudah mengenalkanku pada Fantasya. Salam kenal juga, Fantasya.“ Alfiano berpamitan dan melambai ke arahku dan Maya. Kemudian ia berbalik dan berjalan pergi.
“Akhirnya, kenal juga tuh sama idolanya. Hahaha.“ Maya mulai menggodaku.
“ Apaan sih, May. But, thanks ya. Sudah membuatku berkenalan dengan Alfiano. Hehehe.“
What a perfect day!

***


Sejak aku berkenalan dengan Alfiano, kami selalu mengobrol setelah konser bulanan. Aku pun tetap tak pernah absen menonton Alfiano bermain. Uniknya, kami selalu saling memanggil nama panjang. Alfiano dan Fantasya. Tidak disingkat menjadi Fian dan Tasya. Aku senang dipanggil begitu olehnya. Kami menjadi lebih akrab. Kuakui aku mulai menyukainya. Bukan sekedar suka pada permainannya, tapi aku mulai meyukai sosok Alfiano yang ramah namun misterius.
Kesibukanku sekarang bertambah satu. Setiap ada waktu luang, tak kubiarkan pensil dan kertas dihadapanku menganggur. Kutorehkan garis demi garis hingga terbentuk sebuah sketsa wajah seseorang yang selalu memenuhi pikiranku. Ya, Alfiano. Ternyata perasaanku padanya sudah semakin membesar.
Alfiano adalah sosok yang ramah dan mudah bergaul. Tak heran dia mempunyai banyak teman. Tapi ada satu orang cewek yang kurasa cukup dekat juga dengan dia. Cewek ini suka bermanja-manja pada Alfiano. Namanya Finny. Aku kesal setiap melihat Finny mulai berbicara dengan suara manja kepada Alfiano. Tapi Alfiano tetap bersikap ramah seperti biasa, membuatku bertambah kesal. Kenapa sih dia terlalu ramah? Aku juga tak tahu apakah dia menyukai Finny? Yang pasti terlihat dengan jelas, Finny menyukainya.
Kalau sudah begini, aku ingin menumpahkan semua rasa yang mengganjal di hati. Bercerita kepada Maya atau menulis di blog-ku--fantasya.com. Aku suka menulis di blog. Namun akhir-akhir ini blog-ku banyak diisi dengan ungkapan kegalauanku. Aku tak pernah menuliskan dengan jelas makna tulisanku. Hanya tersirat saja. Nama Alfiano pun tak pernah kucantumkan di setiap tulisanku.
Hmmm, Maya sedang ada kelas. Jadi aku memutuskan untuk membuka blog-ku saja. Aku membuka laptop-ku dan mulai menuliskan ungkapan hatiku di blog.

Suatu hari langkahku terhenti
Kudengar dentingan piano klasik
Setiap nada yang terangkai
Entah mengapa menghanyutkan hati
Membuat waktu serasa terhenti
Pandangan mataku terfokus padanya
Sesosok pria dibalik nada nada indah
Wajahnya yang cerah membuatku tak mampu berkata
Senyumnya yang menawan membuatku tak mampu bernafas
Mister Piano,
Setelah ku kenal dirimu
Bukan hanya nadamu
Tapi juga sosokmu
Yang membuatku merindu

Setelah selesai segera kutekan tombol publish. Aku juga menyertakan foto sketsa wajahnya yang sengaja kubuat samar-samar supaya tidak mudah dikenali, kecuali orang yang benar-benar mengenal Fian.
Alfiano, kali ini aku hanya bisa mencurahkan isi hatiku di blog. Tapi semoga saja aku bisa mencurahkannya langsung padamu, entah kapan.

***

Sudah hampir satu tahun sejak pertama kali aku mengenal Alfiano. Hubungan kami berjalan baik. Ya, sebatas teman sharing saja. Sampai saat ini, dia tak tahu bagaimana perasaanku padanya. Gosip yang beredar, Finny sudah semakin gencar mendekati Alfiano. Aneh rasanya kalau dia tidak menyadari perhatian berlebih dari Finny. Tapi mengapa dia hanya menurut saja? Apakah dia menyukai Finny? Segera kuhentikan pikiranku. Hatiku terasa sakit.
Saat aku sedang asik duduk di taman sambil membuat sketsa wajah Alfiano, seseorang mengagetkanku.
“Hey, Tasya! Kau tahu tidak, aku dan Fian sebentar lagi akan resmi berpacaran. Jadi, tolong kau jangan berani-berani merayu Fian-ku!“
Aku kaget. Buru-buru kusembunyikan sketsa yang sedang kubuat. “Apa maksudmu, Fin? Aku tak pernah merayu Fian. Bukankah kau yang sering bermanja-manja padanya? Menjijikan.“
“Apa katamu? Wajar saja dong aku bermanja padanya. Fian kan pacarku. Sedangkan kau siapa? Si buruk rupa yang tidak populer dan mengemis perhatian dari pangeranku.“
“Pacar? Hahahaha. Orang seramah Fian mana mau dengan cewek segalak kau yang tidak bisa menjaga ucapannya sendiri. Kasar!“
PLAKKK!!
Aw. Pipiku memerah. Bukan karena malu, tapi karena tamparan Finny.
“Jangan pernah bermimpi kau bisa dekat dengan Fian-ku! Besok di kantin, aku akan menyatakan perasaanku pada Fian. Kau bisa kok datang dan melihat saat-saat kami akan resmi berpacaran.“
Finny meninggalkanku. Aku masih mengusap pipiku yang sakit akibat tamparannya. Kalau dipikir-pikir lagi, ucapanku tadi juga kelewatan. Memang kenyataannya kan Finny dekat dengan Alfiano, walaupun aku sering merasa muak melihatnya bermanja-manja di depan umum pada Alfiano. Sebenarnya, aku memang takut Alfiano dan Finny benar-benar berpacaran. Tapi karena emosi, aku malah berkata seperti tadi. Pipiku mulai basah. Aku menangis dalam diam.
Ah, Alfiano. Kenapa sih dia begitu misterius? Ramah dan tersenyum pada semua orang. Aku tak tahu apakah dia benar-benar menyukai Finny? Atau jangan-jangan dia sudah punya cewek lain? Tak ada yang tahu.
BLIP. Ada e-mail masuk. Ternyata itu adalah notifikasi bahwa ada seseorang yang berkomentar di blog-ku. Segera kubuka blog-ku dan mulai membaca komen baru itu. Ternyata tulisanku tentang Alfiano yang dikomentari.
‘wow, sungguh ungkapan hati yang tertulis dengan indah. Nice! –fn-‘
Tak kusangka ada yang membaca dan memuji tulisanku. Blog-ku ini kan tidak pernah kusebarkan pada teman-temanku. Ah, mungkin saja orang lain yang tidak sengaja sampai ke blog ini. Kuketikkan balasan komen itu. Setelah itu, kubaca ulang isi post-ku. Ah, aku jadi kangen pada Alfiano.

***


Besoknya, di kantin, terjadilah kehebohan. Ternyata Finny mau menyatakan perasaannya pada Alfiano! Rasanya aku ingin kabur dari kantin. Tapi aku penasaran juga, apakah dia akan menerima Finny?
Finny berjalan ke tengah kantin, mengajak Alfiano tentunya. Finny mengeluarkan secarik kertas dan kemudian membacakannya.
“Fian, aku nulis ini khusus buat kamu sebagai ungkapan perasaanku ke kamu,“ ucap Finny.
“ Suatu hari langkahku terhenti... Kudengar dentingan piano klasik…. “
Rasanya aku familiar dengan kalimat-kalimat itu. Hmmm. Kudengar lanjutannya dan mendadak aku tersentak. Astaga! Itu kan tulisan buatanku yang kutulis di blog. Mengapa Finny bisa mendapat tulisan itu dan mengaku sebagai buatan dia ya? Jangan-jangan fn itu…
Kulihat Alfiano hanya tersenyum tipis selama Finny membaca tulisan di kertas itu. Tulisanku! Harusnya Alfiano tersenyum padaku, bukan pada Finny. Kepalaku mendadak mulai berdenyut. Wajahku memucat. Aku berusaha menerobos kerumunan di kantin. Aku ingin segera keluar dari tempat ini. Samar-samar aku masih mendengar percakapan Finny dan Alfiano.
“Fian, mau kah kau menjadi pacarku?“ tanya Finny.
“Konser bulanan. Akan kuberi jawabanku disana.“

***


Sejak kejadian itu, aku selalu menghindari Alfiano. Aku tak berani bertemu dengannya. Mungkin dia menyadari itu. Atau mungkin tidak? Ah, aku capek menahan perasaanku terus. Tak terasa hari ini adalah hari diadakannya konser bulanan. Aku ingin hadir seperti biasanya. Tapi aku tak sanggup jika harus melihat Alfiano membalas perasaan Finny.
Terdengar suara ramai dari Hall. Ternyata konser bulanan sudah dimulai. Aku malas untuk datang kali ini. Aku pun hanya berdiam diri di taman. Tapi perasaanku menjadi semakin gelisah. Antara ingin datang atau tidak. Satu jam berlalu, kuputuskan melangkahkan kaki menuju ke Hall. Ternyata Alfiano belum tampil. Astaga, apakah aku benar-benar harus melihat mereka resmi berpacaran? Cairan bening di mataku mendesak ingin keluar. Kutahan sebisaku. Aku duduk di kursi paling belakang sambil setengah menutup wajahku. Setelah ini giliran Alfiano tampil. Perasaanku menjadi campur aduk.
“Hari ini, aku--Alfiano--akan memainkan sebuah lagu ciptaanku sendiri. Lagu ini kudedikasikan untuk seseorang yang sangat berarti untukku.“
Saat Fian mengucapkan kalimat itu, kulihat Finny yang duduk di bangku depan sontak melompat kegirangan. Hatiku makin miris melihatnya. Namun segera kutepis perasaan itu. Aku ingin menikmati permainannya dulu. Fian mulai menyanyi diiringi dentingan pianonya.

Every night and day, my mind is full of you
A perfect girl for me, but I know you’re not real
I wished I’ll meet you, someday in real world
You’re the girl in my fantasy, would you be my girl?

You’re my fantasy, always on my mind
You’re my fantasy, my dear perfect one
And you come to me, I hope it’s not a dream
I’ll tell you how I love you
My girl… My fantasy…

Someday a girl come to me
And she’s like in my fantasy
I want to make her always here
With me…

You’re my fantasy, always on my mind
You’re my fantasy, my dear perfect one
And you come to me, I hope it’s not a dream
I’ll tell you how I love you
My girl… My fantasy…

Rasanya detak jantungku hampir terhenti. Nafasku sesak. Tenggorokanku kering. Aku menegang. Lagu ini, lagu ciptaan Alfiano. My Fantasy. Astaga! Mungkinkah ini…
Alfiano selesai memainkan lagu ciptaannya. Alih-alih turun dari panggung, dia mengambil mic dan mulai berbicara. “Fantasya, would you be my girl?“ Dia meletakkan mic-nya dan berjalan turun dari panggung. Dan aku baru sadar, ternyata dia berjalan kearahku! Keringat dingin mulai membasahi keningku. Aku gugup.
“Fantasya, aku tahu yang menulis tulisan tentang Mister Piano itu adalah kau, bukan Finny. Kau tahu, aku selalu rajin membaca tiap post di blog-mu.“
Aku terpana mendengar pengakuannya. Jadi selama ini dia sudah tahu? Aku menghambur ke pelukannya. Air mataku tak dapat lagi kubendung. Aku sungguh terharu. Kubisikan sebuah kalimat di telinganya.
“ Alfiano, I’m your Fantasya. ”
###


Written : 7 Mei 2012

Pernah dipublikasikan di http://www.wattpad.com/5472964-fantasya

Posted by
fla rose

More

[Cerpen] Aku, Kamu dan Kedai Ramen Super

Aku, Kamu dan Kedai Ramen Super

Vino melangkahkan kakinya mencari tempat makan di dekat kampusnya. Tak sengaja Vino melihat plang kecil bertuliskan Ramen Super. Pastinya tempat itu menjual ramen. Lokasi Ramen Super ini memang dekat dengan kampusnya, tetapi terletak di sebuah gang yang cukup kecil. Tadinya Vino ragu untuk masuk, tetapi dia ingin sekali makan ramen hari itu. Akhirnya Vino pun masuk ke dalam kedai. Tempatnya tidak terlalu besar. Baru melangkahkan kaki ke dalam kedai tersebut, Vino sudah disambut oleh sebuah suara. “Konichiwa! Selamat datang di Kedai Ramen Super!” Tampak seorang cewek berseragam menghampiri Vino. Cewek itu mengenakan kaos putih yang tertutup oleh semacam celemek berwarna merah dengan tulisan ‘Ramen Super’ berwarna kuning, rok merah lebar sebatas lutut serta sepatu boots hampir mencapai lutut. Vino mengikuti pelayan cewek tadi ke sebuah meja untuk dua orang yang terletak di sudut kedai dan dekat dengan jendela yang menghadap keluar.
            “Mau pesan apa?” tanya pelayan tadi dengan ramah.
            “Hmmm, yang spesial disini apa ya?” tanya Vino sambil melihat-lihat menu yang ada di mejanya.
            “Yang spesial dari kami ada Ramen Super Pedas. Kalau tidak suka pedas, bisa juga mencoba Ramen Super Katsu,” kata pelayan tadi menjelaskan. Lima menit kemudian, Vino pun menyebutkan pesanannya.
            “Ramen Super Pedas satu dan lemon tea satu.”
Pelayan tadi menuliskan pesanan Vino di sebuah notes dan mulai berjalan ke area dapur.
            Selagi menunggu, Vino melihat ke sekelilingnya. Pukul tiga sore, dan ada empat buah meja yang penuh berisi orang. Lumayan lah, ini kan bukan jam makan siang, pikir Vino. Tiba-tiba seorang cewek masuk ke dalam kedai. Cewek itu mengenakan celana jeans panjang, kaos putih berlengan panjang, serta tas selempang berwarna biru muda. Saat cewek itu berbelok kearah kasir, rambutnya yang panjang sepunggung terayun. Saat itu juga, Vino terpana, terpesona dengan gerak-gerik cewek tadi. Hingga cewek tadi duduk di sebuah kursi dekat dengan kasir, mata Vino masih tetap tertuju pada cewek tadi.
            “Silahkan pesanannya, Ramen Super Pedas satu dan lemon tea satu,” ucap si pelayan. Vino terkejut. Dia baru sadar sejak tadi dia sibuk memperhatikan seorang cewek.
            “Terima kasih,” ucap Vino. Pelayan itu pun meninggalkan Vino. Vino melihat ke pesanannya. Wah benar-benar Super Pedas, kuahnya saja sampai berwarna kemerahan. Seketika, cacing-cacing di perut Vino seolah berontak dan ingin segera mendapat jatahnya. Vino mengambil sumpit dan mulai mengaduk ramennya. Namun, aktivitasnya tadi terhenti. Ia teringat bahwa tadi dia sedang memperhatikan seorang cewek yang berhasil membuatnya terpesona. Vino buru-buru mengarahkan pandangannya ke arah tempat cewek tadi duduk. Sayang sekali, disana tak ada siapa-siapa, cewek itu telah pergi. Vino menengok kearah jendela, dia sempat melihat sosok cewek tadi berjalan menjauhi kedai dan menghilang di belokan.
            “Sial, cewek itu udah pergi.” Vino menggerutu tanpa sadar. Eh, apa hubungannya juga sama gue, gue kan nggak kenal cewek tadi, batin Vino. Kira-kira, gue bakalan ketemu dia lagi nggak ya? Vino bertanya-tanya dalam hati.
            Tak terasa suapan terakhir dari Ramen Super Pedas telah masuk ke mulut Vino. Ramen ini enak, gue harus balik lagi kesini nih, batin Vino. Vino pun beranjak ke kasir. Setelah membayar makanannya, Vino melangkahkan kaki menuju kosnya sambil terus memikirkan cewek yang berhasil membuatnya terpesona tadi.

***

            Keesokan harinya sepulang dari kuliah, Vino kembali mendatangi kedai Ramen Super. Vino berniat mencoba menu ramen lainnya, seperti Ramen Super Katsu. Vino melangkahkan kaki ke dalam kedai dan seperti hari sebelumnya, ia disambut dengan ramah oleh si pelayan. Vino pun duduk di meja dekat jendela, meja yang sama dengan hari sebelumnya. Vino segera memesan menu yang diinginkannya.
Sambil menunggu pesanannya datang, Vino melihat-lihat ke sekelilingnya. Dan ia terkejut mendapati cewek kemarin -cewek yang membuatnya terpesona, duduk di seberang dekat dinding. Cewek itu sibuk menyuapkan ramennya ke dalam mulutnya. Dia tampak makan dengan lahap sekali. Vino heran, bagaimana ramen-ramen itu dapat menjadi daging dan otot bagi cewek itu. Ya, badan cewek itu memang tidak terlalu besar, tapi cukup kekar, terlihat dari lengannya yang kencang, yang hari ini tidak tertutup karena dia mengenakan sebuah tanktop bewarna putih. Dia juga hanya mengenakan celana pendek selutut saja. Santai sekali gayanya. Tapi yang tetap sama yaitu tas selempang berwarna biru yang tetap dibawanya.
Tepat saat pesanannya datang, cewek itu telah selesai menghabiskan makanannya dan berjalan menuju kasir. Vino tampak tak rela melihat cewek itu berjalan meninggalkan kedai. Entah kenapa, ramen yang enak ini menjadi tak begitu enak. Vino masih memikirkan cewek itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia harus berani mengajak bicara cewek itu jika mereka bertemu kembali.

***

Keesokan harinya, Vino kembali mengunjungi kedai Ramen Super pada jam yang sama. Ia berharap dapat bertemu lagi dengan cewek itu. Saat masuk kedai, Vino langsung melihat ke setiap sudut kedai dan ternyata tidak ada cewek itu disana. Vino duduk di tempatnya biasa dan memesan makanannya, kali ini Ramen Super Seafood. Sampai pesanananya datang, cewek itu belum muncul juga. Vino berusaha tetap tenang, menunggu kedatangan cewek itu sambil perlahan menyuapkan ramennya ke mulut. Vino makan dengan amat lambat, berharap cewek itu datang sebelum Vino selesai makan. Namun, samapai Vino menghabiskan makanannya pun, cewek itu belum muncul juga. Vino merasa kecewa.
Hari berikutnya, Vino datang ke kedai Ramen Super lagi. Menu berikutnya, Ramen Super Kari yang ia pesan. Saat memasuki kedai, lagi-lagi Vino tak mendapati cewek itu. Vino kecewa. Ia takut jika cewek itu tidak datang lagi hari ini. Vino sudah sangat rindu, rindu melihat cewek itu duduk terdiam sambil menunggu pesanannya. Saat seorang pelayan mengantarkan pesanannya, Vino pun bersuara.
“Maaf, saya mau tanya, mbak tahu cewek yang hampir tiap hari datang kesini? Yang selalu pakai tas selempang warna biru muda itu. Tahu nggak?”
“Ah, ya, saya ingat. Dia sering sekali datang kemari. Terkadang makan disini tapi kadang juga dibungkus dan dibawa pulang,” ucap pelayan tersebut.
“Apakah mbak melihatnya kemarin atau hari ini?”
“Sayang sekali, rasanya saya nggak melihat dia selama dua hari ini. Ada yang bisa saya bantu lagi?”
“Oh, oke, terima kasih. Sudah ini saja cukup.” Kemudian pelayan itu pun pergi meninggalkan Vino.
Hmmm, ternyata sudah dua hari cewek itu tidak datang kesini, kemana dia? Vino sibuk bertanya-tanya dalam hati tanpa tahu jawabannya. Tapi Vino tidak putus asa. Ia tetap datang ke kedai Ramen Super keesokan harinya. Namun kedatangannya disambut oleh gelengan si pelayan yang menandakan bahwa cewek yang dia tunggu-tunggu hari ini tidak datang juga. Vino merasa, dia tidak boleh berlarut-larut menunggu cewek itu, ia harus mengambil sikap. Vino pun memutuskan untuk datang lagi keesokan harinya, jika lagi-lagi ia tak bertemu cewek itu, ia memutuskan untuk melupakan cewek itu.
Hari ini, hari terakhir Vino akan menunggu cewek itu. Vino melangkahkan kaki ke dalam kedai dengan perasaan was-was. Rasanya ia tak rela melupakan cewek itu begitu saja tanpa sempat berkenalan dengannya. Vino duduk di tempatnya biasa dan memesan menu terakhirnya yang belum ia coba, Ramen Super Dahsyat. Pelayan cewek yang biasa melayaninya pun tersenyum dan mengucapkan kata semangat padanya.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, masuk lah seorang cewek berambut panjang. Vino tersentak. Itu kan cewek yang dinantikannya. Hari itu dia tampak berbeda dengan kemeja lengan pendeknya yang berwarna merah muda beserta rok selutut berwarna biru muda. Tas selempang yang biasa dikenakannya pun digantikan oleh tas jinjing berwarna krem. Namun, cewek itu tetap memukau di mata Vino. Vino pun langsung mendatanginya. Jantungnya berdetak semakin keras seiring langkahnya yang semakin dekat dengan cewek itu.
“Hai,” ucap Vino. Hanya satu kata itu saja yang keluar dari bibirnya. Rasa gugup sukses membuatnya terdiam bagai orang bisu.
“Eh hai juga. Apa gue kenal sama lo?” tanya cewek itu.
“Eh ya, emm, maksud gue nggak kenal sih, makanya gue kesini dan pengen kenalan sama lo. Boleh kan?” tanya Vino berusaha menekan rasa gugupnya. Keringat mengalir lebih deras dari biasanya membasahi dahi dan pelipisnya.
“Boleh-boleh aja. Gue Karina, panggil aja Karin,” ucap cewek yang ternyata bernama Karina itu sambil tersenyum ramah.
“Oh, hai, Karin. Nama gue Vino. Salam kenal ya.”
Belum sempat mengobrol lebih lanjut, makanan pesanan Karina datang. Ternyata Karina membawa pulang makanannya.
“Lo nggak makan disini aja, Rin?” tanya Vino, berharap bisa mengobrol lebih lama dengan Karina.
“Emm, enggak, Vin. Sebenernya ini makanan buat saudara gue, dia lagi sakit dan nitip beliin ini ke gue. Aneh ya saudara gue itu, lagi sakit kok mintanya ramen. Gue sendiri kurang suka makan ramen kayak gini,”
“Oh gitu. Ya udah deh nggak apa-apa. Boleh gue minta nomor hp lo nggak? Biar kita bisa makan siang bareng, mungkin besok atau kapan?” tanya Vino.
“Ya, tentu aja boleh,” ucap Karina yang kemudia mengetikan nomor hp nya ke ponsel Vino.
“Oke, Rin. Thanks ya. See you tomorrow.”
Bye, Vin.” Mereka berdua pun mengucapkan salam perpisahan sambil tersenyum ramah. Tampaknya mereka benar-benar saling tertarik. Vino pun kembali ke mejanya dan melanjutkan acara makannya dengan wajah berseri-seri.

***

Keesokan harinya, sesuai janji, Vino dan Karina menghabiskan waktu makan siang bersama. Vino mengajak Karian ke sebuah restoran pasta tak jauh dari kampus.
Thanks ya, Vin, udah ngajak gue makan siang bareng,” kata Karina sembari memamerka senyum ramahnya.
“Sama-sama, Rin. Gue seneng bisa makan siang dan ngobrol-ngobrol sama lo gini.”
“Lo sering makan pasta disini, Vin?”
“Enggak juga sih. Belakangan ini gue lagi demen makan ramen di kedai Ramen Super.” Karena disana gue bisa liat lo, Rin, tambah Vino dalam hati.
“Habis ini kita mau kemana nih, Rin?”
“Ke mall aja yuk. Mau nggak, Vin? Gue udah berapa hari ini nggak sempet ke mall. Lo mau kan nemenin gue?”
“Emm.. Enggak apa-apa sih. Ya udah gue temenin. Mau beli apaan emang, Rin?”
“Belom tahu sih mau beli apa. Yaaa, window shopping aja lah, kalau ada yang bagus baru deh beli. Tapi gue kayaknya pengen lihat-lihat dress deh. Ntar lo bantu gue pilihan ya, Vin.”
“Okeee, Rin, ntar gue temenin deh.”
Sebenarnya Vino paling malas jalan-jalan ke mall apa lagi tanpa tujuan jelas, keluar masuk dari satu toko ke toko lainnya. Tapi ini Karina yang minta, mau tak mau ia tak bisa menolak. Lagi pula, ia kan ingin lebih mengenal Karina.
Sesampainya di mall, Karina seakan lupa segalanya. Ia menarik tangan Vino memasuki banyak toko. Banyak dress yang sudah dicobanya namun belum ada yang dibelinya.
“Vin, yang ini cocok nggak sama gue?”
“Emmm, bagus kok, Rin,” jawab Vino malas.
“Aduh, nggak deh, Vin. Lihat nih warna merahnya nggak cocok di kulit gue. Gue ganti dulu ya,” kata Karina sambil mencari dress yang lainnya. Begitulah seterusnya hingga langit menggelap dan Vino mengajak pulang dengan alasan lelah, barulah acara shopping mereka –atau lebih tepatnya acara shopping Karina terhenti. Vino mengantarkan Karina yang ternyata juga tinggal di sebuah rumah kos, kemudian segera pulang ke kos nya sendiri. Hari ini rasanya Vino merasa lelah sekali.
Ternyata kedekatan Vino dan Karina tidak sampai disitu saja. Besok-besoknya, beberapa kali mereka menghabiskan waktu makan siang bersama. Dan lagi-lagi Karina sering mengajaknya ke mall. Vino pernah mencoba menolak, namun yang ada Karina malah menekuk wajahnya. Vino pun mengalah.
Sudah satu minggu lebih Vino dan Karina menghabiskan waktu bersama. Di hari Sabtu ini, mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Tak lupa Vino menemani Karina shopping. Sepulang dari mall, Vino mengantar Karina ke kos nya. Belanjaan Karina kali ini cukup banyak. Jadilah Vino ikut membantu membawakan belanjaannya sampai ke dalam.
Tiba-tiba belanjaan di tangan Vino pun terjatuh. Ia terkejut mendapati sesosok cewek berambut panjang yang memukau, dengan tanktop putih dan celana selututnya serta tak lupa tas selempang biru muda yang berada di bahunya. Di pikiran Vino pun melintas bayangan sesosok cewek yang sedang berjalan memasuki kedai Ramen Super. Astaga...
“Rin, gue ke taman dulu ya, mau cari angin,” ucap cewek itu tanpa mempedulikan keberadaan Vino dan segera berjalan keluar.
“Vin, lo kenapa? Ati-ati dong belanjaan gue ntar rusak semua gimana coba,” kata Karina sambil menekuk wajahnya.
Sorry, sorry, Rin. Emm, dia siapa ya?”
“Oh, dia itu saudara kembar gue, yang waktu itu gue ceritain lagi sakit dan nitip ramen ke gue.”
Vino pun terkejut. Jangan-jangan.... Vino pun segera berpamitan ke Karina dan segera bergegas keluar.
“Rin, sorry ya gue buru-buru, gue cabut sekarang ya.”
“Vin, lo mau kemana sih?” tanya Karina setengah berteriak. Namun Vino berlari semakin menjauh.

***
            Di sebuah taman dekat dengan kos Karina, duduk lah seorang cewek berambut panjang yang hanya mengenakan tanktop dan celana selutut. Tak jauh dari tempat cewek itu duduk, terdapat tas selempang yang diletakan di dekat sebuah pohon.
            “Hai,” kata Vino sambil ngos-ngosan.
            “Siapa lo? Kok tiba-tiba dateng, sambil ngos-ngosan lagi,”
            “Gue Vino,” ucap Vino masih ngos-ngosan.
            “Gue nggak kenal lo. Nih, ada minuman, buat lo aja, kasian gue liat lo,” kata cewek itu sambil melemparkan botol yang sedari tadi dipegangnya ke arah Vino. Vino segera membuka tutupnya dan menghabiskan air yang ada di dalamnya.
            “Thanks,” ucap Vino.
            “You’re welcome. Eit, nggak gratis ya. Gue jadi nggak bisa minum nih,” jawab cewek itu jutek.
            “Tenang aja ntar gue ganti deh. Oh ya, nama lo siapa?”
            “Ngapain lo nanya-nanya nama gue?”
            “Pengen kenalan aja.”
            “Tapi gue nggak pengen kenal sama lo tuh.”
            “Yah kok gitu sih. Nama gue Vino. Nama lo siapa?”
            “Lo pacarnya Karina ya?”
            “Bukaaaan. Cuma temen aja kok. Ayo jangan ngalihin pembicaraan. Nama lo siapa?”
            “Ngapain sih lo nanya-nanya terus. Emang apa perlunya lo tahu nama gue?”
            “Karena gue mau ganti air minum lo tadi. Gue mau nraktir lo makan siang.”
            “No, thanks. Gue masih mampu bayar makan sendiri.”
            “Gue traktir. Terserah lo mau makan apa aja. Tapi kita makannya di kedai Ramen Super. Gimana?”
            “Kedai Ramen Super? Emmm..” Cewek itu berlagak seolah-olah sedang berpikir. “Boleh deh. Besok. Jam 1 siang. Kedai Ramen Super. Kalo gue inget dan nggak males ya. Bye, Vino!” kata cewek itu sambil beranjak, mengambil tas selempangnya dan berlari meninggalkan taman. Vino hanya bisa terbengong-bengong melihat tingkah cewek itu. Bahkan namanya saja ia belum tahu. Namun ia pun seketika tersenyum, mengingat janji makan siangnya dengan cewek itu besok.
           
***

            Keesokan harinya, tepat pukul 1 siang , Vino sudah duduk di kedai Ramen Super. Tak lama kemudian, cewek itu pun datang.
            “Gue tahu lo pasti dateng,” ucap Vino sambil tersenyum.
            “Kok lo yakin sih gue bakal dateng?”
            “Iya dong. Emang lo rela nggak makan ramen disini, gratis pula?”
            “Nggak laaaah, Makanan dan tempat favorit gue nih,” ucap cewek itu dan kemudian langsung menyebutkan pesanannya ke pelayan. Pelayan itu menyebutkan kata selamat pada Vino, tanpa suara. Vino mengerti itu dan hanya mengedipkan matanya.
            “Gue tahu ini tempat favorit lo. Gue juga sering kesini dan gue sering lihat lo. Entah kenapa gue tertarik sama lo, pengen kenal sama lo.”
            “Lo kok kayak stalker sih.”
            “Bukan stalker, kebetulan aja gue ketemu lo terus disini.”
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Mereka mulai makan sambil tetap mengobrol banyak hal sesekali diselingi tawa oleh keduanya.
            “Ternyata lo asik juga ya anaknya, Vin.”
            “Iya dong. Lo juga asik banget, nona manis. Gue ngerasa nyambung banget sama lo padahal baru juga ngobrol sekarang. Mau nambah lagi nggak ramennya?”
            “Mauuu dong,” ucap cewek itu bersemangat dan kembali memesan makanan.
            “Selera makan lo besar juga ya, nona manis.”
            “Stop panggil gue nona manis deh, Vin. Kedengerannya terlalu feminin deh, nggak cocok sama gue!”
            “Gue kan nggak tahu nama lo, nona manis. Tapi jujur, lo emang manis kok,” puji Vino. Pipi cewek itu pun bersemu merah. Vino sendiri gugup setengah mati.
            “Vin, kan udah gue bilang, jangan panggil gue nona manis lagi. Awas lo! Gue punya nama tahu, nama gue Karisa.”
            “Apa tadi nama lo? Gue nggak denger.”
            “Ka-Ri-Sa.” Karisa mengeja namanya perlahan.
            “Coba ulangi sekali lagi,” goda Vino.
            “Tau ah, Vin, Gue sebel sama loooo!” ucap Karisa sambil menengokan wajahnya ke samping, menghindari tatapan Vino.
            “Jangan ngambek gitu dong, nih ramen tahap dua udah dateng nih.” Saat itu pelayan datang dan meletakan pesanan keduanya.
            “Yuk dimakan lagi nih ramennya. Ayo dong, ntar gue yang habisin lho, non Karisa yang manis,” goda Vino lagi.
            “Vinooo, apaan sih, itu kan pesanan gue!! Uuh Vino nyebelin deh. Dan stop panggil gue nona manis!”
            “Iya iya, Karisa manis,” Vino pun terkikik geli melihat ekspresi Karisa.
Begitulah siang itu mereka habiskan mengobrol, bercanda dan saling tertawa sambil menghabiskan makan siang mereka. Dari sanalah, kedai Ramen Super, keduanya dipertemukan, dan disanalah juga tempat keduanya menjadi dekat.
            Sejak saat itu, setiap jam makan siang, Vino dan Karisa selalu bergandengan bersama menuju kedai Ramen Super. Kedai Ramen Super pun tak pernah lepas dari suara ramai dan canda tawa dari keduanya.


Written : 31 Mei 2013

Posted by
fla rose

More

Copyright © 2012 Imagination and LifeTemplate by : UrangkuraiPowered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.